Kamis, 27 Juni 2013

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN SASTRA



PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN SASTRA
Beberapa pendidik percaya bahwa sastra dapat menjadi sarana yang ampuh bagi pembentukan karakter. Weaver (1994), misalnya, mengatakan bahwa “karakter yang terdapat dalam sastra memiliki kekuatan potensial yang hampir sama dengan sosok manusia sungguhan dalam memengaruhi pembaca melalui pengalaman seorang pembaca ketika membaca.
Guru Bahasa Indonesia dan Sastra memiliki peranan penting dalam rangka pembentukan karakter peserta didik. Hal ini terjadi bukan karena sekedar kerena kemampuan berbahasa merupakan prasyarat sebuah pembelajaran yang berhasil, melainkan karena melalui bahasalah seorang individu mampu memahami, mengakuisisi dan pada akhirnya mengeksekusi pemahaman itu menjadi sebuah keyakinan ketika keyakinan itu tampil dalam wujud perilaku yang konsisten, berlandaskan motivasi yang benar dan diperjuangkan secara terus menerus.
Karena guru Bahasa Indonesia dan Sastra ini begitu penting, maka para guru perlu memahami dan merefleksikan bagaimana cara mereka mengajar para peserta didik agar mereka dapat mempelajari sastra secara efektif dan bermakna. Ketika membaca, seorang anak mempergunakan skema mental yang dimilikinya untuk memahami dan mengerti teks yang dibacanya. Semakin familiar teks itu, semakin mudah ia memahami, semakin tidak familiar, semakin sulit ia memahami isi teks tersebut. Proses pengolahan informasi ini juga menentukan kadar keberhasilan seorang anak dalam memecahkan persoalan maupun dalam membuat evaluasi atas sebuah teks.
Skema mental ini ternyata juga memengaruhi kecepatan seorang anak dalam memahami persoalan moral yang akan menentukan caranya dalam mengambil keputusan moral. Semakin skema itu familiar dengan pendekatan moral yang diyakininya, anak akan semakin cepat memahami dan mengambil keputusan. Skema pemahaman moral ini bersifat komulatif, yaitu dipelajari dari tahap pemahaman yang sederhana sampai tingkat pemahaman moral lebih tinggi dan kompleks. Pemahaman moral seorang anak akan memengaruhi kemampuannya dalam mengambil keputusan moral.
Pertumbuhan seorang anak agar semakin piawai dalam mengambil keputusan moral terbentuk dari skema moral yang dimilikinya. Skema moral ini terbentuk dari kumpulan pengalaman, kesamaan, dan kejadian-kejadian sejenis yang membuat seorang anak mampu mengambil sikap akan apa yang baik dan apa yang buruk. Skema moral ini memberikan kunci baginya untuk memahami pengalaman sosialnya.
Para peneliti juga mencoba melihat kaitan antara teks yang kental dengan muatan moral dalam kaitannya dengan perkembangan moral seorang anak. Ditemukan bahwa agar dapat membaca teks moral secara baik, memiliki kemampuan membaca saja ternyata tidaklah mencukupi. Latar belakang pengetahuan dan level perkembangan moral anak akan memengaruhi daya ingat mereka akan teks-teks moral yang kompleks. Jadi, semakin tinggi skema moral seorang anak, semakin persis ia dapat menceritakan kembali persoalan moral yang ada didalam teks.
Dari berbagai macam penelitian ini, dapat kita simpulkan bahwa:
1.      Membaca merupakan sebuah tindakan aktif
2.      Pembaca memahami makna isi yang berbeda dari sebuah teks berdasarkan latar belakang mereka, seperti keterampilan, pengetahuan dan keahlian.
3.      Pembaca tidak harus selalu menangkap makna atau pesan dari si penulis sebuah teks.
4.      Pesan moral dapat ditangkap dengan baik atau tidak tergantung dari perkembangan moral dan skema moral seorang anak.
Secara umum, pendidikan karakter senantiasa melibatkan 3 dimensi penting yang ada didalam diri manusia (Lickona, 1993). Tiga dimensi ini menjadi satu kesatuan, meskipun secara teoritis bisa dipisahkan, namun secara praktis, ketiga hal ini ada dalam diri manusia. Pembentukan karakter seorang individu akan sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam memahami apa yang baik (moral knowledge), melaksanakan apa yang diyakininya sebagai kebaikan (moral action) dan mencintai perilaku moral tersebut, karena dengan melakukannya, seorang individu menemukan kepuasan, kebermaknaan dan kebahagiaan didalam hidup (moral feeling).
Strategi pengajaran dalam pembelajaran sastra mesti memerhatikan tiga dimensi ini. Sebab, memiliki kemampuan membaca saja tidaklah mencukupi agar seseorang sampai pada pemahaman dan praksis moral yang tepat. Mengingat bahwa peserta didik itu tidak otomatis dapat menangkap pesan dan makna dari teks yang dibaca, proses pembelajaran sastra mesti dimodifikasi dengan melibatkan kehadiran orang dewasa sebagai pembimbing yang mengarahkan dan menjadi rekan dalam pembelajaran. Disinilah, guru pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra menjadi sangat penting.
Pendidikan karakter tidak dapat menghindarkan diri dari tujuan dasarnya, yakni bertumbuhnya kemampuan akademis dan pembentukan karakter yang kuat dan kokoh. Dengan membaca, anak dilatih untuk makin mahir dalam menerima dan menyerap informasi. Melalui budi dan pikirannya, mereka mencoba menafsirkan, memahami, dan bertindak atas informasi yang telah mereka peroleh. Upaya-upaya tersebut membuat mereka juga mampu berpartisipasi dan bertindak dalam rangka membentuk dunia dan lingkungan sesuai dengan pemahaman mereka. Karena itu, maka pentinglah bagi anak didik untuk menumbuhkan kemampuan refleksifnya terhadap nilai-nilai moral dari hari kehari.
Mengingat adanya keterkaitan yang erat  antara keterampilan membaca dengan kemampuan anak-anak dalam memahami nilai-nilai moral, kiranya perlu disebut disini beberapa metode pengajaran yang bisa membantu para pendidik dalam rangka pengembangan moral literacy peserta didik.
1.      Metode diskusi
Menurut leal (1990), diskusi memiliki penekanan khusus dalam proses pembelajaran ini karena, “akuisisi pengetahuan oleh peserta didik tidak terbatas pada konstruksi makna yang sifatnya pribadi, melainkan makna itu terentuk dan terbentuk kembali melalui prosese social yang panjang. Selain itu, tidaklah mungkin bagi kita memiliki interpretasi yang relative sahih dan objektif terlepas dari konteks social sebuah komunitas.
2.      Metode debat
Sebuah kelas yang terstruktur dalam rangka mempelajari tema-tema yang controversial bisa membantu siswa untuk menajamkan refleksi yang dapat menumbuhkan kesadaran moral mereka. Misalnya, siswa mempertahankan sebuah tema yang dibahas, sedangkan dilangkah berikutnya, siswa mencoba mengkritisi gagasan dan tema yang tadi telah dipertahankannya. Strategi ini akan membantu siswa dalam memahami kompleksitas persoalan moral dan intensitas moral yang dihadapi.
3.      Metode riset atau penelitian
Dalam pembelajaran sastra, siswa perlu diajak untuk mendalami dengan lebih jauh persoalan moral yang ada didalam teks, sehingga siswa dapat memahami secara lebih mendalam persoalan-persoalan moral yang terdapat didalam teks. Ini akan dapat membuat para siswa semakin terbuka pemahaman dan wawasannya.
4.      Motode bermain peran melalui sebuah drama
Siswa dapat semakin mendalami kodrat dan motivasi karakter-karakter dalam cerita. Metode ini akan sangat membantu siswa untuk memahami dan mendalami kualitas individu yang terlibat ketika mereka memecahkan persoalan hidup secara damai.
5.      Menulis jurnal atau membuat essay
Memberikan tugas menulis essai memungkinkan siswa merefleksikan pembelajaran yang mereka alami dan menerapkannya dalam kehidupan mereka. Guru bisa memancing pertanyaan dalam rangka penulisan dengan bertanya, apa yang kamu lakukan bila kamu berada dalam posisi tokoh atau orang dalam bacaan itu ?
6.      Metode pengalaman langsung
Ketika anak diajarkan untuk memahami nilai-nilai tertentu, metode yang dipakai adalah member ruang bagi peserta didik agar ia mau mempraktikannya secara langsung, baru kemudian membuat laporan, berupa refleksi dan evaluasi atas persoalan tersebut.


7 LANGKAH EFEKTIF PENGAJARAN MORAL
Ada tujuh langkah strategis yang dilakukan oleh guru agar ia dapat mendesain proses pembelajaran berjiwa pembentukan karakter melalui kegiatan membaca.
Persiapan awal: pemilihan bacaan
Guru perlu mempersiapkan pengajaran dengan memilih bacaan yang cocok, yaitu yang megandung persoalan moral. Bacaan ini bisa diambil dari kisah satra maupun bacaan lain yang sesuai, seperti berita.

Langkah 1
Menemukan persoalan dan intensitas moral
Guru perlu bertanya, apakah didalam teks tersebut terdapat persoalan moral dan bagaimana tingkat intensitas moralnya? Yang dimaksudkan dengan persoalan moral disini adalah apakah peristiwa dan kisah dalam bacaan tersebut terkait dengan keberadaan hidup umat manusia. Disini, persoalan moral lebih mengacu pada apakah martabat manusia dijunjung tinggi, dihargai dan dilindungi.
Sedangkan yang dimaksud dengan intensitas moral adalah seberapa besar dampak sebuah peristiwa tersebut bagi keberlangsungan hidup umat manusia.
Langkah 2
Mengenali keutamaan dan nilai moral
Pada langkah selanjutnya, guru mesti menemukan keutamaan dan nilai-nilai apa yang terdapat dalam sebuah bacaan. Apakah keutamaan nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah teks?
Langkah 3
Memilih satu keutamaan/nilai
Setelah menemukan berbagai macam keutamaan dan nilai dari rangkaian peristiwa yang menjadi bahan bacaan, kemudian ditentukan satu prioritas yang akan menjadi bahan ajar untuk siswa. Misalnya, diantara banyak keutamaan dan nilai kita temukan nilai keadilan, penguasaan diri, patriotism. Guru memilih salah satu tema sebagai bahan pengajaran.
Langkah 4
Mengenali konteks kehidupan peserta didik
Guru perlu mengenali konteks peserta didik, latar belakang keluarga, masyarakat, pengetahuan dan lain-lain untuk mencari kaitan antara tema yang akan diajarkan dengan kehidupan dan pengalaman siswa.
Langkah 5
Mengajarkan keutamaan/nilai
Guru mengajarkan pada siswa tentang arti dan makna dari nilai yang ingin diajarkan. Pemahaman kognitif ini penting dalam rangka pembentukan karakter, dan member pengertian kepada para siswa mengenai keutamaan dan nilai dalam tema yang akan diberi penekanan, misalnya, tentang memahami arti patriotisme dalam konteks kepemilikian senjata nuklir.

Langkah 6
Mencari bentuk-bentuk nyata keutamaan
Guru mengajak anak-anak untuk memahami brntuk-brntuk perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari tentang apa yang sedang dipelajari. Guru pun perlu melibatkan siswa dalam tindakan nyata untuk melatihkan keutamaan dan nilai-nilai ini.
Langkah 7
Refleksi dan evaluasi
Dalam proses pembelajaran. Siswa perlu diajak untuk melakukan refleksi dan evaluasi. Para siswa diajak untuk melihat kembali, apa yang sebenarnya telah mereka kerjakan mulai dari kegiatan membaca, berdiskusi maupun melakukan aksi yang menjadi perwujudan dari pemahaman tentang nilai yang sedang ditanamkan dan diajarkan disekolah. Refleksi mengacu pada unsur psikologis-emosional pada saat siswa mempraktikkan nilai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar