Kamis, 27 Juni 2013

GURU PROFESIONAL SEBAGAI KOMUNIKATOR DAN FASILITATOR

1. Guru sebagai Komunikator.
Dilihat dari peran guru di dalam kelas, mereka berperan sebagai seorang komunikator, mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non-verbal. Pesan dalam bentuk verbal tersebut dirancang untuk disajikan dalam beberapa kali pertemuan, dan diterapkan sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, media, dan dalam alokasi waktu yang sesuai dengan beban dan muatan materi.
Komunikasi materi pelajaran tidak terbatas di dalam kelas semata tetapi dirancang untuk luar kelas, berupa tugas yang terkontrol dan terukur, baik materi teoritis dan praktis, sehingga materi pelajaran yang disajikan lebih komunikatif. Di dalam kelas guru menjelaskan, siswa bertanya, menyimak, sebaliknya guru mendapatkan informasi dari para siswanya, dan menjawab pertanyaan siswa serta mencari solusi bersama-sama, kedua belah pihak (komunikator-komunikan) aktif, dan peran yang lebih dominan terletak pada siswa atau siswa yang lebih aktif. Pada akhir dari penyajian materi, guru melakukan evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa terhadap materi yang telah dikomunikasikan.

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

A. Pengertian Keterampilan Dasar Mengajar

Keterampilan dasar mengajar (teaching skills) adalah kemampuan atau keterampilan yang bersifat khusus (most specific instructional behaviors) yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur atau widyaiswara agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien dan profesional (As. Gilcman,1991). Dengan demikian keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan beberapa keterampilan atau kemampuan yang bersifat mendasar dan harus dikuasai oleh tenaga pengajar dalam melaksanakan tugas mengajarnya.

Dalam mengajar ada dua kemampuan pokok yang harus dikuasai oleh seorang tenaga pengajar, yaitu;
1) Menguasai materi atau bahan ajar yang akan diajarkan (what to teach)
2) Menguasai metodologi atau cara untuk membelajarkannya (how to teach)
Keterampilan dasar mengajar termasuk kedalam aspek no 2 yaitu cara membelajarkan siswa. Keterampilan dasar mengajar mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh tenaga pengajar, karena dengan keterampilan dasar mengajar memberikan pengertian lebih dalam mengajar. Mengajar bukan hanya sekedar proses menyampaikan materi saja, tetapi menyangkut aspek yang lebih luas seperti pembinaan sikap, emosional, karakter, kebiasaan dan nilai-nilai.

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN SASTRA



PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN SASTRA
Beberapa pendidik percaya bahwa sastra dapat menjadi sarana yang ampuh bagi pembentukan karakter. Weaver (1994), misalnya, mengatakan bahwa “karakter yang terdapat dalam sastra memiliki kekuatan potensial yang hampir sama dengan sosok manusia sungguhan dalam memengaruhi pembaca melalui pengalaman seorang pembaca ketika membaca.
Guru Bahasa Indonesia dan Sastra memiliki peranan penting dalam rangka pembentukan karakter peserta didik. Hal ini terjadi bukan karena sekedar kerena kemampuan berbahasa merupakan prasyarat sebuah pembelajaran yang berhasil, melainkan karena melalui bahasalah seorang individu mampu memahami, mengakuisisi dan pada akhirnya mengeksekusi pemahaman itu menjadi sebuah keyakinan ketika keyakinan itu tampil dalam wujud perilaku yang konsisten, berlandaskan motivasi yang benar dan diperjuangkan secara terus menerus.

Rabu, 19 Juni 2013

PEMBELAJARAN SEBAGAI PILAR UTAMA PENDIDIKAN



PEMBELAJARAN SEBAGAI PILAR UTAMA PENDIDIKAN
Komisi Pendidikan untuk Abad XXI (Unesco 1996: 85) melihat bahwa hakikat pendidikan sesungguhnya adalah belajar. Selanjutnya, dikemukakan bahwa pendidikan bertumpu pada 4 pilar, yaitu:
1.      Learning to Know
2.      Learning to Do
3.      Learning to Live Together
4.      Learning to Be
Secara lebih rinci, keempat pilar tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.

Rabu, 12 Juni 2013

pendidikan karakter

A.     Pentingnya Pendidikan Karakter
Saat ini pendidikan formal di sekolah saja tidak cukup, pengaruh lingkungan dan kehidupan modern yang berkembang membuat kita harus waspada terhadap hal-hal negatif yang bisa merasuki pikiran anak-anak kita. Agar anak-anak kita bisa menjadi anak yang baik, sholeh dan berhasil dalam kehidupan di masyarakat bukan hanya dibutuhkan kepandaian dan ilmu yang tinggi, tetapi juga harus diimbangi dengan pembentukan karakter anak yang baik dan sholeh. Pembentukan karakter inilah yang sangat penting kita lakukan pada saat anak kita masih usia dini, dan orangtua harus mempunyai visi untuk pembentukan ini. Jangan abaikan pendidikan karakter pada saat anak kita masih usia PG, TK dan SD, karena kita tidak bisa mengulanginya lagi setelah mereka dewasa.